Lompat ke konten utama

Saka Mese Maluku

Aktivis Maluku Selatan dari organisasi seperti Saka Mese Maluku dan Untuk Maluku – Groningen, bersama dengan para simpatisan, menggelar aksi unjuk rasa yang kuat di Lisboa.

LISASON — Pada malam menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia, titik tertinggi di Lisabon, Miradouro da Senhora do Monte, dihiasi warna biru, putih, hijau, dan merah. Aktivis Maluku menggelar beberapa aksi pengibar bendera pada hari Minggu, 16 Agustus, di pusat bersejarah ibu kota Portugal tersebut.

Ketika seorang pemilik restoran lokal mendengar siapa para aktivis itu dan alasan keberadaan mereka di Portugal, ia memberikan izin dengan penuh antusias untuk menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Pengusaha yang menjalin persahabatan erat dengan warga Timor Leste ini menyambut orang-orang Maluku dengan tangan terbuka. Di hadapan restoran yang penuh dan teras yang padat pengunjung, para aktivis mengumandangkan nyanyian mereka yang berdaya juang tinggi. Momen ini menjadi pembuka yang sempurna untuk rangkaian aksi penuh kesan guna menarik perhatian terhadap hak menentukan nasib sendiri serta menentang penindasan Indonesia, pelanggaran hak asasi manusia, eksploitasi, dan pengambilalihan tanah adat di Maluku, dari Maluku Utara hingga Maluku Tenggara.

Pemilik restoran dengan bangga memperlihatkan bendera Maluku Selatan (RMS), setelah dijelaskan kepadanya arti dari keempat warnanya: biru untuk kebebasan dan perairan Maluku, putih untuk kemurnian, hijau untuk kesuburan dan harapan, serta merah untuk kesiapsiagaan berjuang dan pengorbanan demi kebebasan tanah air dan bangsa.

Kepanikan di Kedutaan Besar Republik Indonesia

Pada Senin pagi, 17 Agustus, para aktivis sudah berdiri di depan pintu Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Mengenakan pakaian tradisional (Pakaian Adat Maluku), berbekal bendera dan spanduk, kehadiran mereka mengejutkan pihak kedutaan. Kepolisian Portugal menyambut kelompok ini dengan hangat dan mengawasi situasi, sementara kekacauan langsung terjadi di dalam area kedutaan. Karena tidak memahami apa yang sedang terjadi, terdengar seruan heran di area kedutaan: “Dorang dari mana?!”.

Atase atau staf kedutaan berlari tergesa-gesa ke dalam dan kembali membawa kamera dengan lensa tele. Begitu pria tersebut sadar bahwa dirinya sedang direkam, ia kehilangan kendali diri dan bingung harus berbalik ke arah mana. Tidak lama kemudian, seorang wanita Indonesia keluar dan tampak melambaikan bendera kecil Merah Putih.

Demonstrasi di depan Kedutaan Besar Indonesia di Lisabon.

Acara resmi kedutaan menjadi berantakan akibat kehadiran para demonstran Maluku. Sebelum upacara benar-benar dimulai, seseorang jatuh sakit dan para tamu berhamburan ke dalam. Setelah acara yang berlangsung terburu-buru dan hanya bertahan selama dua jam, para tamu pun langsung membubarkan diri. Saat hendak meninggalkan lokasi, tiga petugas keamanan Indonesia berjalan ke arah mobil para aktivis Maluku. Para demonstran mengabaikan mereka sepenuhnya, sementara polisi Portugal mengikuti para petugas tersebut secara ketat untuk mencegah provokasi.

Aksi Budaya di Tugu Peringatan Perbudakan

Pada sore harinya, aksi berpindah ke Tugu Peringatan Perbudakan Portugal, dengan latar belakang Jembatan 25 April yang ikonik. Di antara alunan lagu-lagu Maluku, para aktivis membagikan kisah mengenai situasi di tanah air mereka. Aksi ini mendapat sambutan yang sangat baik dari para wisatawan maupun warga lokal.

Pertunjukan budaya di depan Monumen Perbudakan.

Masyarakat Portugal terbukti sangat sadar akan sejarah kolonial mereka sendiri di Maluku dan menunjukkan kehangatan serta kepedulian yang mendalam. Karena Portugal di masa lalu secara aktif memperjuangkan kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri bagi Timor Leste, warga lokal merasakan tanggung jawab sejarah dan rasa solidaritas itu secara kuat.

Setelah seharian diwarnai pertemuan yang berkesan, nyanyian, dan pesan politik yang kuat, para aktivis menutup akhir pekan aksi mereka yang sukses dengan wawancara bersama sebuah surat kabar Portugal. Pesan mereka jelas: perjuangan Maluku tidak dapat lagi diabaikan, bahkan di luar batas negara.