
AMBON, 12 Agustus 2026 — Beberapa hari menjelang peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, generasi muda dari bangsa Maluku menyampaikan sinyal politik yang tidak boleh diabaikan. Di bawah seruan “Pulangkan Merah Putih”, para mahasiswa dan pemuda kita menuntut agar bendera tersebut dikembalikan dari kawasan kepulauan ke pusat kekuasaan di Jakarta. Aksi ini menjadi puncak dari frustrasi berdekade-dekade atas pemerintah pusat yang secara sistematis mengabaikan wilayah kita. Bagi para penggagas, bendera tersebut menjadi simbol dari perdebatan mendasar mengenai apa yang sebenarnya telah diberikan oleh pemerintah di Jakarta kepada rakyat kita setelah sekian dekade.
Aksi mengembalikan bendera ini berfungsi sebagai konfrontasi tajam dan langsung terhadap establishment politik. Pemuda Maluku kita menyoroti masalah yang paling krusial dan menyuarakan keluh kesah mendalam yang sangat beralasan. Di saat wilayah kita dulunya merupakan buaian kesejahteraan kawasan karena kekayaan sumber daya alamnya, hari ini rakyat kita masih berada dalam posisi yang tertinggal. Melalui aksi ini, para pemuda menegaskan bahwa ketidakadilan selama berdekade-dekade dari Jakarta tidak lagi dapat diterima dan sudah saatnya untuk memperhitungkan semuanya.
Guna menyatukan kekuatan rakyat kita yang terpecah, para penyelenggara menyerukan pembentukan Kongres Masyarakat Maluku Sedunia. Pertemuan diplomatik dan kemasyarakatan ini diharapkan menjadi platform yang kuat di mana para akademisi, tokoh budaya, politisi, dan diaspora global dapat berkumpul. Prinsip dasarnya sangat jelas: keyakinan teguh bahwa kita sebagai bangsa Maluku jauh lebih mampu mengurus diri kita sendiri daripada pemerintah jauh di Jakarta yang tidak akan pernah benar-benar melakukannya untuk kita. Kongres ini menandai langkah untuk menentukan arah ekonomi, budaya, dan sosial kita secara mandiri.
Salah satu fokus utama dari gerakan ini adalah memanfaatkan potensi besar yang dimiliki oleh rakyat kita sendiri, termasuk yang berada di luar kepulauan. Diaspora Maluku yang tersebar di Belanda dan seluruh dunia memiliki kekayaan pengetahuan, modal intelektual, serta jaringan internasional. Dengan menyatukan kekuatan-kekuatan ini, terbentuk sebuah blok yang kuat untuk membangun masa depan kita sendiri. Generasi muda kita menolak untuk melihat diaspora sebagai orang luar; mereka justru merupakan pilar krusial yang membuktikan bahwa kita sebagai orang Maluku sangat mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Keluh kesah yang disuarakan oleh pemuda kita berakar kuat pada fakta ekonomi dan sejarah yang nyata. Sebagai wilayah kepulauan, Maluku dihadapkan pada biaya yang melambung tinggi, fasilitas yang memprihatinkan, pengerukan kekayaan laut dan sumber daya alam, serta ketimpangan fiskal yang terus-menerus demi keuntungan Jawa. Eksploitasi dan pengabaian berdekade-dekade oleh pemerintah di Jakarta memperlihatkan bahwa otoritas pusat tidak pernah menginginkan yang terbaik untuk tanah kita. Tidak adanya investasi yang adil membuktikan bahwa pemeliharaan dan pengurusan kepulauan kita seharusnya berada di tangan kita sendiri.
Pemuda kita menunjukkan bahwa mereka memiliki keberanian untuk bangkit melawan ketidakadilan yang telah menimpa rakyat kita selama bergenerasi-generasi. Aksi “Pulangkan Merah Putih” adalah ekspresi kuat dari perasaan rakyat yang meluas: batas kesabaran kita terhadap Jakarta telah habis. Ini adalah garis tegas terhadap ketertinggalan yang terus berlanjut pada komunitas kita, sekaligus panggilan kuat untuk penentuan nasib sendiri dan kendali atas tanah serta sumber daya kita.
Dengan menatap masa depan, para mahasiswa Maluku menunjukkan bahwa generasi baru telah bangkit untuk mengambil alih nasib rakyat kita ke tangan mereka sendiri. Seruan dari Ambon ini merupakan awal dari gelombang emansipasi baru yang akan mengubah peta kekuatan secara permanen. Pesan kepada Jakarta dan dunia sangat jelas: pemuda kita telah bersuara, keluh kesah mereka sangat beralasan, dan Maluku siap untuk menentukan arahnya sendiri serta mengurus dirinya sendiri.