BOVENSMILDE / AMBON — Pada hari Jumat, 11 September 2026, Negeri Patahuwey (Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat) dilanda dampak konflik yang mendalam dan kebakaran yang menghancurkan. Puluhan keluarga kehilangan rumah dan seluruh harta benda mereka; setidaknya 27 rumah hangus terbakar dan beberapa warga mengalami luka-luka.
Untuk segera menyediakan kebutuhan pokok dan tempat pengungsian bagi warga yang terdampak di Maluku, organisasi Saka Mese Maluku langsung menggalang aksi donor cepat selama 4 hari.
Kabar tentang kehancuran dan penderitaan di Patahuwey sangat menyentuh hati masyarakat Maluku di Belanda. Selama aksi penggalangan dana empat hari yang intensif tersebut, Saka Mese Maluku beserta berbagai simpatisan lokal bergandengan tangan, dan dalam waktu singkat berbagai bantuan keuangan baik skala kecil maupun besar mengalir setelah dilakukannya seruan darurat.
Masyarakat Maluku di seluruh Belanda menyambut seruan tersebut secara massal. “Baik berupa donasi kecil beberapa euro maupun jumlah yang lebih besar dari keluarga dan pemuda: setiap kontribusi menunjukkan bahwa ikatan kita dengan tanah air tidak akan pernah terputus dan warga Patahuwey tidak menghadapi ini sendirian,” ungkap pihak organisasi.
Berkat dukungan yang hangat ini, Saka Mese Maluku berhasil mengumpulkan total € 823,-, atau setara dengan sekitar Rp 16.414.500,-. Jumlah ini ditransfer dalam dua tahap ke Komunitas Kalesang Maluku, di mana pengiriman terakhir dilakukan pada Rabu, 16 September 2026, untuk segera disalurkan langsung sebagai bantuan darurat di lokasi.
Berkat kerja sama yang erat antara Saka Mese Maluku, masyarakat Maluku di Belanda (tanah rantau), dan mitra lokal di Maluku, seperti Komunitas Kalesang Maluku, Maluku Mural Family, dan Rumah Tua Ideal, bantuan darurat tersebut diserahkan langsung ke Posko di Kafe Ujung JMP, Ambon. Koordinasi dan penyaluran barang lebih lanjut dilakukan melalui relawan Forum Peduli Seram Bagian Barat (FPSB), di mana Figel Fakaubun pada Jumat, 25 September 2026, atas nama para pemrakarsa, menyerahkan secara langsung 21 paket bantuan pertama kepada manajer posko, Aan Bin Umar.
Untuk memenuhi kebutuhan mendesak, bantuan tersebut antara lain mencakup 20 buah tikar, 15 lusin selimut, 25 lusin bra, 25 lusin celana dalam wanita, 15 lusin celana pendek, 50 kain sarung, 15 lusin pakaian dalam anak perempuan, 5 lusin pakaian bayi, pakaian layak pakai dari warga Kota Ambon, serta 25 pak buku tulis, 10 pak pena, dan 10 pak pensil.
Saat penyerahan, Vigel Faubun menegaskan bahwa nilai bantuan tidak seharusnya dinilai semata-mata dari jumlah barangnya: “Jangan lihat dari besar kecilnya bantuan yang diberikan, tetapi lihat manfaat dan kepedulian kemanusiaannya.” Dengan tulisan “Bantuan untuk Negeri Patahuwe, Taniwel, SBB” dan slogan “Mari Kalesang Maluku”, aksi ini menegaskan ikatan yang tak terputus, persaudaraan, dan solidaritas antara masyarakat Maluku di Ambon, tanah air, dan di tanah rantau.