AMBON – Di tengah kondisi Kota Ambon yang terancam krisis air bersih serta dampak kebakaran hutan, lahan, dan kemarau panjang, masyarakat Maluku di berbagai belahan dunia membuktikan arti nyata sebuah persaudaraan. Berkat aksi penggalangan dana yang bergerak cepat dari Belanda, para relawan di Kota Ambon berhasil menyalurkan 3.650 masker kepada warga di jalanan. “Bagi kami, ini bukan sekadar pembagian masker, melainkan wujud nyata kepedulian kemanusiaan,” tegas Vigel Faubun, Ketua Komunitas Kalesang Maluku.
Aksi kemanusiaan ini lahir sebagai respons atas memburuknya kondisi lingkungan di Ambon. Meski kabut asap tebal belakangan ini mulai mengurai, Faubun mengingatkan bahwa ancaman lingkungan bagi masyarakat belum sepenuhnya usai.
Dari Donasi hingga Aksi Nyata di Lapangan
Demi menyalurkan bantuan secepat mungkin, kolaborasi erat terjalin antara organisasi di Belanda dan tim lokal di Maluku. Organisasi Saka Mese Maluku memprakarsai gerakan donasi di Belanda, yang langsung disambut hangat oleh masyarakat Maluku dan para simpatisan setempat.
Tanpa menunda waktu, Saka Mese Maluku langsung menyerahkan hasil donasi yang terkumpul kepada Komunitas Kalesang Maluku di Ambon. Penyerahan langsung ini memungkinkan tim relawan di lapangan untuk segera bergerak membeli dan membagikan bantuan.
Sebanyak 3.650 masker berhasil disiapkan dan seluruhnya telah didistribusikan oleh para relawan kepada warga yang beraktivitas di ruang terbuka—mulai dari pengguna jalan, pedagang kaki lima, pekerja lapangan, hingga kelompok rentan. Aksi pembagian masker ini menjangkau titik-titik krusial di Kota Ambon:
• Seputaran Jalan Pattimura
• Lapangan Merdeka
• Tanah Tinggi (depan McDonald’s)
• Seputaran Poka
• Kampus Universitas Pattimura (Unpatti)
• Depan MCM, Tantui
“Bantuan masker mungkin terlihat sederhana,” tutur Faubun. “Namun di tengah situasi seperti ini, kehadiran bantuan tersebut sangat berarti. Kami berharap gerakan ini tidak berhenti pada pembagian masker semata, tetapi menjadi pemantik lahirnya kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kesehatan, lingkungan, dan keselamatan hidup.”
Tentang Komunitas Kalesang Maluku: Kebudayaan sebagai Wujud Kepedulian
Komunitas Kalesang Maluku didirikan pada 10 Oktober 2010 oleh sejumlah mahasiswa Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Konseling (FKIP) Universitas Pattimura, yang awalnya berhimpun dalam Tim Seni Budaya Maluku. Pada 27 Agustus 2015, komunitas ini bertransformasi mengusung nama Komunitas Kalesang Maluku dengan menyunggi semangat Creation Children Center of Moluccas.
Komunitas ini aktif merawat seni dan budaya, mengembangkan tari tradisional maupun kreasi, sastra, puisi, teater, literasi budaya, hingga aksi sosial kemanusiaan. Bagi Faubun, kebudayaan memiliki makna yang jauh menembus batas panggung pertunjukan:
“Budaya bukan sekadar tentang tarian, pakaian adat, musik, atau tradisi turun-temurun. Budaya adalah tentang nilai-nilai kemanusiaan, rasa peduli, persaudaraan, dan tanggung jawab atas kehidupan bersama. Kata ‘Kalesang’ sendiri bermakna merawat dan menjaga. Keberadaan kami tidak diukur dari seberapa banyak karya yang tercipta, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat.”
Situasi Ambon: “Berkurangnya Asap Bukan Berarti Berakhirnya Penderitaan”
Faubun menyuarakan imbauan agar semua pihak tidak terkecoh oleh kepulan asap yang tampak menipis. Musim kemarau yang berkepanjangan justru melahirkan ancaman baru: kondisi lingkungan yang mengering drastis serta debu dan abu yang berterbangan akibat angin maupun lalu lintas kendaraan, sehingga mengganggu saluran pernapasan warga.
Dampak kemarau dan kebakaran lahan ini bahkan mulai mengancam kebutuhan paling mendasar masyarakat, yaitu akses air bersih. Di beberapa kawasan, warga mulai kesulitan mendapatkan air untuk minum, memasak, dan sanitasi rumah tangga.
“Ini bukan lagi persoalan alam semata, melainkan sudah menyentuh krisis kemanusiaan dan merusak kualitas ruang hidup manusia,” tegas Faubun. Beliau mendorong pemerintah serta lembaga terkait untuk segera mengambil langkah konkret:
• Penanganan & Pemulihan: Langkah pemadaman kebakaran hutan dan lahan harus berjalan seiring dengan upaya pemulihan lingkungan secara berkelanjutan.
• Pasokan Air Bersih: Perlu penanganan darurat untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi seluruh warga.
• Kesehatan Masyarakat: Perlindungan kesehatan warga—khususnya anak-anak, lansia, dan kelompok rentan—harus menjadi prioritas utama.
Pesan Solidaritas untuk Saudara di Belanda
Kepada masyarakat Maluku serta para simpatisan di Belanda, Faubun menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya:
“Jarak geografis boleh membentang jauh, namun kepedulian tidak pernah mengenal batas wilayah. Apa yang dilakukan oleh saudara-saudara di Belanda melalui Saka Mese Maluku membuktikan bahwa ikatan persaudaraan orang Maluku tetap menyala. Kepercayaan yang dialirkan langsung kepada kami merupakan amanah moral yang kami emban dengan penuh rasa hormat. Bantuan ini menegaskan satu hal: masyarakat di Ambon tidak pernah berjalan sendiri.”
Imbauan dan Ajakan untuk Masyarakat Maluku
Sebagai penutup, Ketua Komunitas Kalesang Maluku ini menyampaikan ajakan moral kepada seluruh masyarakat Maluku:
• Kesehatan & Air: Batasi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk, kenakan masker, segera periksakan diri jika merasa kurang sehat, gunakan air bersih secara bijak, serta ulurkan tangan bagi tetangga yang kesulitan air.
• Kesadaran Lingkungan: Hentikan kebiasaan membakar hutan dan lahan secara sembarangan. “Sebab alam yang kita rusak hari ini adalah masa depan kehidupan yang sedang kita pertaruhkan.”
• Solidaritas Persaudaraan: Mari hidupkan kembali semangat orang basudara. Jangan menunggu saudara kita terdesak kesulitan baru kita menunjukkan kepedulian.
Pesan Penutup Vigel Faubun:
“Gerakan ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak harus selalu dimulai dari hal yang besar. Terkadang, selembar masker yang diberikan dengan ketulusan mampu menjadi bukti nyata bahwa masih ada kasih di antara sesama. Katong jaga alam, katong jaga kehidupan. Katong baku kele, katong baku bantu — sebab Maluku adalah rumah bersama yang menjadi tanggung jawab katong samua.”
Vigel Faubun
Ketua Komunitas Kalesang Maluku