
AMBON — Kombinasi berbahaya antara kekeringan yang berkepanjangan, kondisi tanah yang sangat kering, dan hembusan angin kencang meningkatkan kewaspadaan di kepulauan Maluku. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini: potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Maluku tersebut telah mencapai tingkat siaga tertinggi.
Peringatan ini berdasar pada analisis terbaru dari Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN) milik BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon. Berdasarkan pemetaan meteorologi, lapisan atas tanah dan vegetasi di kepulauan tersebut berada dalam kondisi yang sangat mudah terbakar.
Permukaan Tanah Kering Jadi “Kruitvat” Potensi Api
Kekhawatiran utama pihak meteorologi tertuju pada kondisi bahan bakar alami di permukaan tanah. Akibat curah hujan yang minim dalam jangka waktu lama, lapisan humus, rumput kering, dan guguran dedaunan telah berubah menjadi media yang sangat ideal bagi pemicuan api. Percikan api sekecil apa pun dalam kondisi ini dapat memicu kebakaran lahan yang hebat hanya dalam hitungan detik.
Selain itu, lapisan tanah organik bagian menengah yang terdiri dari semak belukar berkayu dan ranting-ranting kecil di banyak lokasi juga berada pada tingkat bahaya “tinggi hingga sangat tinggi”. Hal ini menandakan bahwa api yang sudah menyala dapat meresap jauh ke dalam tanah sehingga sangat sulit untuk dipadamkan.
| Indikator (BMKG SPARTAN) | Tingkat Potensi | Dampak terhadap Risiko Kebakaran |
|---|---|---|
| Lapisan Bawah / Permukaan (FFMC) | Rendah hingga Sangat Tinggi | Lapisan dedaunan kering dan rumput sangat cepat menyambar api. |
| Lapisan Menengah (DMC) | Tinggi hingga Sangat Tinggi | Semak belukar dan bahan organik kering memicu kebakaran yang persisten/sulit dipadamkan. |
| Laju Penyebaran Api (ISI) | Rendah hingga Sangat Tinggi | Api dapat menyebar dengan sangat cepat dan tidak menentu akibat dorongan angin. |
| Intensitas Kebakaran (FWI) | Rendah hingga Sangat Tinggi | Tingkat intensitas api yang tinggi menyulitkan upaya pemadaman. |
Angin Kencang Mempercepat Penyebaran Api
Faktor lain yang sangat mengkhawatirkan adalah peran angin. BMKG menekankan bahwa Initial Spread Index (ISI) yang menggambarkan kecepatan pergerakan kepala api meningkat secara eksponensial seiring bertambahnya kecepatan angin. Setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 kilometer per jam, kecepatan penyebaran api akan berlipat ganda.
Khususnya di area padang rumput atau alang-alang, kondisi ini dapat memicu terbentuknya pola kepala api (head fire) yang bergerak cepat, melahap area yang luas dalam waktu singkat, serta mengancam pemukiman warga.
Imbauan Meningkatkan Kewaspadaan Penuh
Meskipun tingkat risiko tidak merata di seluruh wilayah provinsi, BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan seluruh masyarakat untuk tidak menganggap remeh kondisi ini.
Aktivitas pembakaran sampah secara terbuka maupun pembersihan lahan menggunakan api sangat tidak disarankan. Pemerintah tingkat desa dan kelurahan diharapkan meningkatkan patroli di wilayah rawan serta segera melaporkan indikasi kemunculan titik api kepada pihak berwenang. Respon cepat terhadap indikasi awal menjadi satu-satunya kunci untuk mencegah terjadinya bencana karhutla skala besar di wilayah Maluku.
Mari katong baku jaga satu sama lain!
Saka Mese Maluku
Jaga Maluku tetap hijau, aman, dan nyaman untuk ditinggali!