Saka Mese Maluku

Saka Mese Maluku

The South Moluccan Movement

Seram, 17 Februari 2026 – Kami dari Saka Mese Maluku tidak bisa lagi berdiam diri. Apa yang tengah terjadi di Tanah Seram saat ini bukanlah sekadar langkah iklim yang netral, melainkan ancaman mendasar bagi rakyat kami, martabat kami, dan tanah leluhur kami.

Atas nama iklim, hutan-hutan kami diukur, dihitung, dan diperdagangkan. Karbon diberi harga. Pohon-pohon diberi nilai pasar. Namun, masyarakat yang telah melindungi hutan ini selama ratusan tahun seolah-olah menjadi tak kasat mata. Kami melihat bagaimana negara memposisikan diri sebagai pedagang karbon, sementara masyarakat adat Seram dikucilkan dari pengambilan keputusan atas tanah mereka sendiri.

Kami Bukan Sekadar Angka dalam Akuntansi Karbon

Leluhur kami telah melindungi hutan tanpa kontrak, tanpa subsidi, dan tanpa dana internasional. Mereka melakukannya atas dasar tanggung jawab, berdasarkan adat, berdasarkan sasi – dari kesadaran mendalam bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan.

Kini, hutan yang sama terancam direduksi menjadi sekadar tonase CO_2 di pasar internasional. Dan kami? Kami direduksi menjadi angka nol dalam sebuah neraca.

Ini bukanlah kesalahan administratif. Ini bukan kesalahpahaman. Ini adalah bentuk perampasan baru yang dikemas dalam bahasa hijau dan terminologi iklim internasional.

Kebijakan Iklim Tanpa Keadilan Adalah Kolonialisme Berwajah Baru

Kami menolak model di mana “pembangunan hijau” digunakan untuk memusatkan dan mengomersialkan kendali atas tanah kami. Ketika prinsip Persetujuan Atas Dasar Informasi Tanpa Paksaan (FPIC) tidak dihormati secara nyata, maka yang terjadi bukanlah kemitraan, melainkan pengucilan.

Ketika adat dan sasi diabaikan karena tidak dapat dinyatakan langsung dalam Euro atau Dolar, maka pengetahuan kuno kami sedang didevaluasi secara sistematis.

Kami tidak menerima hal itu.

Tuntutan Kami Jelas

Saka Mese Maluku menuntut:

• Pengakuan penuh atas hak-hak masyarakat adat di Seram;
• Partisipasi nyata dalam semua proses pengambilan keputusan;
• Penghormatan terhadap adat dan sasi sebagai landasan pengelolaan hutan yang berkelanjutan;
• Transparansi mengenai kontrak karbon dan pembagian keuntungan yang adil.

Kami tidak menentang perlindungan iklim. Kami menentang kebijakan iklim yang menindas rakyat, alih-alih melindungi mereka.

Seruan untuk perlawanan damai dan solidaritas

Kami menyerukan kepada komunitas kami, gereja-gereja, kaum muda, para pemimpin adat, organisasi masyarakat sipil, dan sekutu untuk bersuara. Untuk bersatu. Untuk mengajukan pertanyaan. Untuk menuntut transparansi.

Kami menyerukan diorganiser perlawanan damai, sopan, terorganisir, tetapi tang tegas terhadap kebijakan yang merusak hak-hak kami.

Bagi kami, perlawanan berarti:

• Memperkuat struktur adat kami;
• Mendokumentasikan hak atas tanah kami;
• Menantang secara hukum keputusan yang tidak adil;
• Membuat apa yang terjadi di Seram terlihat oleh publik internal dan eksternal;
• Membangun solidaritas, baik secara lokal maupun internasional.

Kami tidak akan membiarkan keheningan kami diartikan sebagai persetujuan.

Seram bukanlah ruang kosong di atas peta. Seram bukanlah stok cadangan karbon. Seram adalah rumah kami. Seram adalah tanah leluhur kami dan masa depan anak-cucu kami.

Kami mendesak pemerintah untuk tidak hanya melihat ke pasar global, tetapi juga melihat kepada rakyat yang telah menjadi penjaga hutan sejati selama turun-temurun.

Tanpa keadilan, tidak ada keberlanjutan. Jika kita tidak memperjuangkan keadilan, mungkin suatu saat nanti tidak akan ada lagi Seram.

Saka Mese Maluku