{"id":1970,"date":"2026-04-21T01:31:06","date_gmt":"2026-04-20T23:31:06","guid":{"rendered":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/nl\/?p=1970"},"modified":"2026-04-21T09:38:57","modified_gmt":"2026-04-21T07:38:57","slug":"de-molukken-in-de-greep-van-kolonialisme-en-neokolonialisme-rijkdom-zonder-welvaart","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/de-molukken-in-de-greep-van-kolonialisme-en-neokolonialisme-rijkdom-zonder-welvaart\/","title":{"rendered":"Maluku dalam Cengkeraman Kolonialisme dan Neokolonialisme: Kekayaan Tanpa Kesejahteraan"},"content":{"rendered":"<\/p>\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"731\" src=\"https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_000000001294720aa6a41f593f5f07085681710734039273857-1024x731.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1983\" srcset=\"https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_000000001294720aa6a41f593f5f07085681710734039273857-1024x731.png 1024w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_000000001294720aa6a41f593f5f07085681710734039273857-300x214.png 300w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_000000001294720aa6a41f593f5f07085681710734039273857-768x548.png 768w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_000000001294720aa6a41f593f5f07085681710734039273857.png 1402w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Bangsa Maluku telah hidup selama lebih dari empat abad, tepatnya sekitar 421 tahun, di bawah pengaruh kekuatan kolonial dan neokolonial. Dimulai dari penjajah Belanda (1605\u20131949), kemudian sejak tahun 1950, Maluku dikuasai secara kekerasan dan dikolonisasi kembali oleh penguasa Jawa. Sejarah panjang dominasi asing ini telah meninggalkan jejak mendalam pada masyarakat, ekonomi, dan identitas Maluku.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Apa yang dimaksud dengan (neo-)kolonialisme?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kolonialisme adalah pendudukan dan eksploitasi wilayah seberang laut oleh kekuatan asing, yang sering kali disertai dengan pemukiman penjajah. Dominasi politik serta eksploitasi sosial dan ekonomi terhadap penduduk lokal menjadi inti dari sistem ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Neokolonialisme merujuk pada bentuk dominasi yang lebih modern. Meskipun negara-negara tersebut secara formal telah merdeka, hubungan kekuasaan tetap terjaga melalui kontrol ekonomi, pengaruh politik, dan dominasi budaya. Pengaruh ini terus berlanjut hingga hari ini dalam bentuk citra diri, bahasa, budaya, dan agama.<br \/><br \/>Neokolonialisme Indonesia tidak hanya bersifat ekonomi. Hal ini terutama diilhami oleh budaya dan sejarah Jawa, di mana kerajaan Mataram dan Majapahit mengeklaim telah memerintah seluruh Nusantara (dari Sumatra hingga Papua). Cita-cita penguasa di Jakarta adalah menyebarkan keagungan budaya Jawa dari Sumatra hingga Papua: menciptakan sebuah bangsa baru dari 350 suku bangsa yang digabungkan secara paksa, dengan berbasis pada budaya Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Neokolonialisme di Maluku<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Secara historis, Maluku memiliki arti penting karena kekayaan alamnya yang unik. Selama berabad-abad, kepulauan ini merupakan satu-satunya tempat di dunia di mana cengkih dan pala tumbuh. Hal ini menjadikan Maluku target strategis bagi kekuatan Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p>Berturut-turut, negara-negara seperti Portugal, Spanyol, Inggris, dan akhirnya Belanda menancapkan pengaruhnya di Maluku. Tujuan mereka jelas: menguasai perdagangan rempah-rempah dan mengamankan monopoli. Ketika Belanda secara resmi meninggalkan Hindia Belanda pada tahun 1949, era kolonial secara formal berakhir. Namun bagi Maluku, hal ini bukanlah kebebasan sejati, melainkan transisi menuju bentuk penguasaan yang baru.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sejak Aneksasi Kekerasan: Kurangnya Kemajuan Struktural<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak integrasi paksa dan kekerasan Maluku ke dalam negara Indonesia pada November 1950, banyak pihak menilai hampir tidak ada kemajuan struktural yang berarti. Pemerintahan dari Jakarta selama puluhan tahun tidak menghasilkan pembangunan yang seimbang di wilayah tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Di saat wilayah lain di Indonesia berkembang secara ekonomi, Maluku tetap tertinggal. Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja tetap terbatas atau tidak merata. Di saat yang sama, kekayaan alam kawasan tersebut dijarah oleh perusahaan-perusahaan dari luar Maluku dengan bantuan jenderal dan pejabat korup, tanpa menghasilkan kesejahteraan luas bagi penduduk lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini menyebabkan Maluku hanya menjadi wilayah periferi (pinggiran) di mana hasil buminya berakhir di tempat lain. Menjadi mustahil bagi Maluku untuk dapat menikmati kekayaannya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"679\" src=\"https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_00000000f554720a841789e22bf0a37e9084065378269335687-1024x679.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1991\" srcset=\"https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_00000000f554720a841789e22bf0a37e9084065378269335687-1024x679.png 1024w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_00000000f554720a841789e22bf0a37e9084065378269335687-300x199.png 300w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_00000000f554720a841789e22bf0a37e9084065378269335687-768x509.png 768w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_00000000f554720a841789e22bf0a37e9084065378269335687-1536x1018.png 1536w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_00000000f554720a841789e22bf0a37e9084065378269335687.png 1540w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">\u201cSejak November 1950, kami telah kehilangan kendali atas negara kami sendiri, setelah Jakarta menyerbu Maluku.\u201d<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Contoh Nyata Ketertinggalan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Realitas sehari-hari di Maluku memperlihatkan ketertinggalan ini:<\/p>\n\n\n<style>\n    .maluku-tabel {<br \/>\n        width: 100%;<br \/>\n        border-collapse: collapse;<br \/>\n        margin: 20px 0;<br \/>\n        font-family: sans-serif;<br \/>\n        font-size: 0.95rem;<br \/>\n    }<br \/>\n    .maluku-tabel th {<br \/>\n        background-color: #2c3e50;<br \/>\n        color: white;<br \/>\n        text-align: left;<br \/>\n        padding: 12px;<br \/>\n    }<br \/>\n    .maluku-tabel td {<br \/>\n        border: 1px solid #ddd;<br \/>\n        padding: 12px;<br \/>\n        vertical-align: top;<br \/>\n    }<br \/>\n    .maluku-tabel tr:nth-child(even) {<br \/>\n        background-color: #f9f9f9;<br \/>\n    }<br \/>\n    .maluku-tabel tr:hover {<br \/>\n        background-color: #f1f1f1;<br \/>\n    }<br \/>\n    .categorie-cel {<br \/>\n        font-weight: bold;<br \/>\n        color: #2c3e50;<br \/>\n        width: 20%;<br \/>\n    }<br \/>\n<\/style>\n<table class=\"maluku-tabel\">\n<thead>\n<tr>\n<th>Kategori<\/th>\n<th>Tantangan &#038; Permasalahan Saat Ini<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td class=\"kategori-cel\">Pendidikan<\/td>\n<td>Kurangnya sekolah dan guru yang berkualitas memaksa kaum muda sering kali meninggalkan pulau mereka demi melanjutkan studi.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td class=\"kategori-cel\">Kesehatan<\/td>\n<td>Banyak pulau memiliki akses terbatas ke fasilitas medis; perawatan spesialis sering kali hanya tersedia di kota-kota besar. Mahasiswa kedokteran Belanda yang magang di rumah sakit di Ambon menyatakan bahwa rumah sakit tidak memenuhi standar kualitas Barat, dan kualitas tenaga medisnya pun sangat rendah.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td class=\"kategori-cel\">Infrastruktur<\/td>\n<td>Jalan yang rusak, pelabuhan yang terbatas, dan koneksi transportasi yang buruk menghambat perkembangan ekonomi. Anak sekolah bahkan harus berenang menyeberangi sungai yang lebar demi pergi ke sekolah.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td class=\"kategori-cel\">Lapangan Kerja<\/td>\n<td>Ekonomi sebagian besar bergantung pada perikanan dan pertanian skala kecil, sementara proyek-proyek skala besar dikuasai oleh pihak eksternal, pejabat, dan pengusaha korup. Orang dari luar Maluku lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan penduduk asli sendiri. Pengangguran di kalangan pemuda Maluku yang berpendidikan sangat tinggi. Penduduk asli hanya diperbolehkan menangkap ikan di pesisir yang minim ikan, sementara di laut dalam yang kaya akan ikan, kapal-kapal besar Jepang dan Tiongkok bebas beroperasi.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td class=\"kategori-cel\">Biaya Hidup<\/td>\n<td>Barang kebutuhan pokok sering kali lebih mahal karena biaya transportasi yang tinggi dan keterbatasan logistik.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td class=\"kategori-cel\">Transmigrasi<\/td>\n<td>Program transmigrasi, di mana selama bertahun-tahun ratusan ribu orang Jawa dikirim ke Maluku, merupakan ancaman besar bagi keseimbangan demografi dan identitas asli penduduk Maluku.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n\n\n<p>Para transmigran datang dengan keluarga besar, mendapatkan keuntungan ekonomi dari pemerintah Jakarta, serta membawa budaya Jawa dan agama Islam mereka. Dalam beberapa generasi, orang Maluku akan menjadi minoritas di tanah air mereka sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Data dan Fakta Pendukung<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ketertinggalan struktural Maluku dikonfirmasi oleh statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Dunia, dan UNDP:<\/p>\n\n\n\n<p>\u2022 Tingkat kemiskinan di Maluku berkisar antara 16\u201318%, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional Indonesia (9\u201310%).<br \/>\u2022 Pendapatan per kapita termasuk yang terendah di negara ini dan jauh tertinggal dibandingkan wilayah dominan secara ekonomi seperti Jawa.<br \/>\u2022 Indeks Pembangunan Manusia (IPM\/HDI) berada di kisaran 0,69\u20130,71, sementara wilayah maju mencetak skor di atas 0,75\u20130,80.<br \/>\u2022 Pengangguran dan setengah pengangguran, terutama di kalangan muda, tetap menjadi masalah besar.<br \/>\u2022 Di daerah terpencil, 20\u201330% penduduk memiliki akses terbatas terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih dan layanan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Realitas Neokolonial<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hingga tahun 2026, Maluku dalam pandangan ini terus dieksploitasi dengan cara lain. Maluku Selatan dianggap telah berada di bawah pendudukan dan eksploitasi ekonomi selama hampir 76 tahun. Di Maluku Utara, setelah penangkapan dan isolasi Sultan Muhammad Jabir Syah (\u2020), terjadi pengaruh politik di mana struktur lokal digunakan untuk kepentingan kekuatan ekonomi eksternal.<\/p>\n\n\n\n<p>Sultan Muhammad Jabir Syah (4 Maret 1902 \u2013 4 Juli 1975) adalah pendukung negara Maluku yang mandiri. Setelah beliau disingkirkan, Maluku Utara menjadi rentan terhadap kontrol eksternal dan kepentingan ekonomi asing.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kekayaan Tanpa Kesejahteraan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Maluku memiliki kekayaan alam yang luar biasa: nikel, tembaga, emas, puluhan ladang minyak dan gas termasuk Blok Masela, serta salah satu kawasan perikanan terkaya di dunia. Namun, wilayah ini tetap menjadi salah satu yang termiskin di Indonesia. Kontradiksi ini memicu pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin wilayah dengan kekayaan seperti itu tetap miskin secara struktural?<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut pernyataan politisi Mercy Barends, hal ini bukanlah kebetulan. Ia menyatakan bahwa selama bertahun-tahun telah ada kebijakan sadar dari pemerintah di Jakarta untuk menjaga Maluku tetap miskin secara struktural.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"680\" src=\"https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_0000000076dc720a8cc2cb475eb923dc857437372318396169-1024x680.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1993\" srcset=\"https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_0000000076dc720a8cc2cb475eb923dc857437372318396169-1024x680.png 1024w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_0000000076dc720a8cc2cb475eb923dc857437372318396169-300x199.png 300w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_0000000076dc720a8cc2cb475eb923dc857437372318396169-768x510.png 768w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_0000000076dc720a8cc2cb475eb923dc857437372318396169-1536x1020.png 1536w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/file_0000000076dc720a8cc2cb475eb923dc857437372318396169.png 1539w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Bersatu, berorganisasi, dan bentuk satu kepalan tangan. Berdirilah bersama demi masa depan cucu-cucu kita.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Masa Depan dan Pilihan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Situasi yang dihadapi Maluku menyentuh inti identitas, kepastian hidup, dan prospek masa depan. Budaya, tradisi, dan struktur sosial berada di bawah tekanan, sementara peluang ekonomi tetap terbatas.<\/p>\n\n\n\n<p>Generasi yang lahir lewat 25 april 1950, sangka bahwa -tagal ajar di sekolah bahwa Indonesia sudah merdeka &#8211; bahwa mereka hidup dalam kemerdekaan!<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka tidak berketinggian dengan sejarah Proklamasi Kemerdekaan negara Maluku pada 25 april 1950, dan serangan Republik Indonesia untuk tutup kebenaran ini dari dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka tidak tau bahwa saat ini ada pakar-pakar hukum internasional yang berani menyatajan bahwa: Maluku Selatan tetap harus di anggap sebuah negara yang sah yang diduduki secara illegal oleh negara agressor yang lain, ya&#8217;ni: Republik Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka tidak sadar bahwa Program Transmigrasi ratusan ribu bangsa Jawa&nbsp; (juga) ke Maluku, itulah Program Menjawanisasi Maluku secara licik!<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka sangka mereka sekarang hidup dalam kebebasan dan kemerdekaan. Banyak tidak sadar.<\/p>\n\n\n\n<p>Generasi saat ini dihadapkan pada pilihan mendasar: menerima situasi yang ada, atau melawan apa yang dianggap sebagai kelanjutan hubungan kolonial dalam bentuk baru: neokolonialisme bangsa Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang pasti adalah, tanpa adanya perubahan, hampir dapat dipastikan bahwa generasi mendatang akan menjadi minoritas di tanah mereka sendiri, dan peluang serta masa depan mereka akan sirna.<\/p>\n\n\n<p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bangsa Maluku telah hidup selama lebih dari empat abad, tepatnya sekitar 421 tahun, di bawah pengaruh kekuatan kolonial dan neokolonial. Dimulai dari penjajah Belanda (1605\u20131949), [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1970","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1970","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1970"}],"version-history":[{"count":18,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1970\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1994,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1970\/revisions\/1994"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1970"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1970"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1970"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}