{"id":1721,"date":"2025-06-28T12:39:55","date_gmt":"2025-06-28T10:39:55","guid":{"rendered":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/nl\/?p=1721"},"modified":"2025-06-28T12:41:01","modified_gmt":"2025-06-28T10:41:01","slug":"inheems-land-is-geen-militair-terrein","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/inheems-land-is-geen-militair-terrein\/","title":{"rendered":"TANAH ADAT BUKAN WILAYAH MILITER"},"content":{"rendered":"<\/p>\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"2000\" height=\"1125\" src=\"https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/img-20250628-wa00108225437825158425246.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1727\" srcset=\"https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/img-20250628-wa00108225437825158425246.jpg 2000w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/img-20250628-wa00108225437825158425246-300x169.jpg 300w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/img-20250628-wa00108225437825158425246-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/img-20250628-wa00108225437825158425246-768x432.jpg 768w, https:\/\/sakamesemaluku.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/img-20250628-wa00108225437825158425246-1536x864.jpg 1536w\" sizes=\"(max-width: 2000px) 100vw, 2000px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Koordinator Saka Mese Maluku mengunjungi lokasi Paralayang Nusaniwe pada akhir tahun lalu<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Sekali lagi, aparat negara Indonesia merampas tanah yang adalah milik&nbsp;<strong>sah<\/strong>&nbsp;masyarakat adat Maluku secara turun-temurun \u2014 sebuah pola yang menyakitkan dan berulang.<\/p>\n\n\n\n<p>Kekecewaan mendalam melanda masyarakat adat negeri Nusaniwe (Ambon), setelah aksi terbaru TNI AU. Tanpa konsultasi atau izin, TNI disebut-sebut telah mengambil alih tanah masyarakat adat secara sepihak. Tujuannya: membangun instalasi radar.<\/p>\n\n\n\n<p>Wilayah yang dimaksud berlokasi strategis \u2014 lahan pertanian sekaligus destinasi paralayang yang populer. Warga desa melaporkan bahwa TNI tiba-tiba memasang patok batas dan menyatakan wilayah itu sebagai \u201chutan lindung\u201d untuk pertahanan negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Masyarakat merasa dikesampingkan. \u201cKalau hanya satu instalasi radar, mungkin ada ruang untuk berdiskusi. Tapi untuk apa delapan hektare? Itu sama sekali tidak masuk akal,\u201d kata para pemimpin desa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe title=\"Nusaniwe Airlouw\" width=\"819\" height=\"461\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/qicmX0pIhFk?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><figcaption class=\"wp-element-caption\">Di lokasi Nusaniwe ini, aparat negara Indonesia ingin membangun instalasi radar tanpa berkonsultasi dengan masyarakat setempat. Hal ini menuai kekhawatiran dan penolakan.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Bagi masyarakat, tanah ini lebih dari sekadar tanah: itu adalah mata pencaharian mereka. Mereka menanam makanan di sana, memelihara kebun, dan memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Instalasi militer berarti hilangnya otonomi, keamanan, dan masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Warga tidak menentang pembangunan. Namun, pembangunan harus dilakukan dengan musyawarah dan saling menghormati. Sekarang tanah leluhur mereka ditempatkan di bawah kendali militer \u2014 tanpa izin, dengan konsekuensi ekologis dan sosial yang besar. Selain itu, wilayah tersebut penting untuk pariwisata, dan menarik banyak pengunjung domestik dan asing setiap tahun.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tentara versus penduduk asli<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Insiden ini bukan satu-satunya. Tentara Indonesia makin sering mengklaim tanah yang telah dikelola oleh masyarakat Maluku selama berabad-abad. Di Tawiri (Ambon), penguasa militer mengklaim tanah untuk pangkalan. Di Marafenfen, di Kepulauan Aru, masyarakat baru-baru ini harus membela diri secara hukum terhadap klaim dari angkatan udara.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan berulang kali, ternyata bukan penduduk asli, tetapi aparat negara yang memiliki keputusan akhir.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe title=\"21 januari 2021\" width=\"819\" height=\"461\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/wxHDkqt4J5Q?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><figcaption class=\"wp-element-caption\">Konflik perbatasan darat pada tanggal 21 Januari 2021, di mana aparat negara Indonesia digunakan untuk mengintimidasi masyarakat Tawiri.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n<p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekali lagi, aparat negara Indonesia merampas tanah yang adalah milik&nbsp;sah&nbsp;masyarakat adat Maluku secara turun-temurun \u2014 sebuah pola yang menyakitkan dan berulang. Kekecewaan mendalam melanda masyarakat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1721","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1721","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1721"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1721\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1730,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1721\/revisions\/1730"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1721"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1721"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sakamesemaluku.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1721"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}